Dari pertigaan Bluto hingga Pare, sebuah pilihan menunda kuliah demi mempedalam bahasa Inggris sebagai bekal masa depan.
Seperti biasa, saya berdiri di pertigaan Kecamatan Bluto,
menunggu bus AKAS dari arah Kota Sumenep menuju Jawa. Pagi itu masih
gelap—bakda subuh—udara dingin menggantung, dan jalanan belum sepenuhnya
terjaga. Di tengah suasana yang lengang itu, saya membawa satu niat sederhana:
menuntut ilmu dan memperdalam bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri.
Perjalanan panjang dimulai dari Sumenep menuju Terminal
Bungurasih, Surabaya. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan bus jurusan
Pare. Setibanya di Kecamatan Pare, tepatnya Desa Tulungrejo, saya menaiki becak
menuju tempat yang sejak lama saya tuju: Basic English Course (BEC), lembaga
kursus yang diasuh oleh Mr. Kalend’O.
Pare menghadirkan suasana yang berbeda. Pagi hari dimulai
dengan sapaan dalam bahasa Inggris—“Good morning!”, “How are you?”—yang
terdengar hampir di setiap sudut. Para pelajar dari berbagai daerah datang
dengan tujuan yang sama: belajar bahasa. Di antara mereka, saya hadir dengan
satu keputusan yang tidak lazim—menunda kuliah.
Di tengah arus pelajar yang bergegas melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi, pilihan tersebut kerap dipandang sebagai
langkah yang tertunda. Namun, bagi saya, ini bukan tentang menunda, melainkan
mempersiapkan diri. Ketertarikan pada bahasa Inggris telah tumbuh sejak saya
duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Nurul Islam. Dari sekadar mata pelajaran,
ia berkembang menjadi kebutuhan.
Pengalaman belajar di Palapa English College, saat
menjalani pengabdian di Pondok Pesantren An-Najah desa Matanair Kecamatan
Rubaru Kabupaten Sumenep, menjadi pijakan awal. Selama satu tahun, saya
mempelajari dasar hingga tingkat menengah. Namun, ada satu hal yang belum
terpenuhi: ruang praktik yang intens dalam kehidupan sehari-hari.
Kebutuhan itu saya temukan di Pare. Lingkungan yang
kondusif membuat saya cepat beradaptasi, terutama dalam praktik berbicara.
Bahasa Inggris tidak hanya digunakan di dalam kelas, tetapi juga dalam
keseharian—bersama teman, guru, masyarakat sekitar, bahkan para penjual di
warung dan toko. Ruang belajar terasa tanpa batas; bahasa menjadi bagian dari
kehidupan itu sendiri.
Namun, belajar di Kampung Inggris bukan hanya soal
lingkungan yang mendukung kemampuan berbahasa. Ada sisi lain yang membuat saya
semakin betah. Urusan sederhana seperti makan justru terasa ringan. Nasi pecel,
nasi rames, bakso, hingga mie ayam bisa dinikmati dengan harga yang sangat
terjangkau pada waktu itu. Bagi seorang perantau yang sedang fokus belajar,
hal-hal seperti ini menjadi penopang penting: sederhana, tetapi cukup.
Saya tinggal di indekos PIYAOLIYANG, sekitar 100 meter
dari BEC. Jarak yang dekat membuat saya bisa sepenuhnya tenggelam dalam ritme
belajar. Pagi berangkat ke kelas, siang latihan, malam mengulang
pelajaran—semuanya berjalan dalam pola yang teratur. Di ruang sederhana itulah
saya belajar tentang disiplin, konsistensi, dan ketekunan.
Hari-hari di Pare berjalan dalam ritme yang khas. Saya
juga mengikuti beberapa lembaga kursus untuk memperkaya pengalaman belajar.
Waktu berjalan cepat. Delapan bulan terasa seperti perjalanan singkat yang
penuh makna. Lebih dari sekadar kemampuan bahasa, saya mendapatkan cara pandang
baru—bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri dalam belajar dan meraih
tujuan.
Keputusan menunda kuliah memang sempat dipertanyakan.
Namun, saya meyakini bahwa penguasaan bahasa asing merupakan bekal penting
dalam menghadapi dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian—terutama dalam
membaca referensi dan menyusun karya ilmiah.
Setelah menyelesaikan masa belajar di Pare, saya kembali
ke kampung halaman. Sambil menunggu pendaftaran kuliah, saya menjalani
aktivitas sehari-hari, membantu orang tua. Namun, ada satu hal yang berubah:
keyakinan. Saya merasa lebih siap melangkah.
Pengalaman di Kampung Inggris mengajarkan bahwa
pendidikan tidak selalu harus berjalan lurus. Ada kalanya seseorang perlu
mengambil jeda untuk memperkuat fondasi sebelum melangkah lebih jauh.
Dan bagi saya, semua itu bermula dari satu pagi di
pertigaan Bluto—saat saya menunggu bus, membawa mimpi, dan memilih jalan yang
berbeda.*



.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)







