27 Desember 2021

Belajar di Kampung Inggris


Dari pertigaan Bluto hingga Pare, sebuah pilihan menunda kuliah demi mempedalam bahasa Inggris sebagai bekal masa depan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seperti biasa, saya berdiri di pertigaan Kecamatan Bluto, menunggu bus AKAS dari arah Kota Sumenep menuju Jawa. Pagi itu masih gelap—bakda subuh—udara dingin menggantung, dan jalanan belum sepenuhnya terjaga. Di tengah suasana yang lengang itu, saya membawa satu niat sederhana: menuntut ilmu dan memperdalam bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri.

Perjalanan panjang dimulai dari Sumenep menuju Terminal Bungurasih, Surabaya. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan bus jurusan Pare. Setibanya di Kecamatan Pare, tepatnya Desa Tulungrejo, saya menaiki becak menuju tempat yang sejak lama saya tuju: Basic English Course (BEC), lembaga kursus yang diasuh oleh Mr. Kalend’O.

Pare menghadirkan suasana yang berbeda. Pagi hari dimulai dengan sapaan dalam bahasa Inggris—“Good morning!”, “How are you?”—yang terdengar hampir di setiap sudut. Para pelajar dari berbagai daerah datang dengan tujuan yang sama: belajar bahasa. Di antara mereka, saya hadir dengan satu keputusan yang tidak lazim—menunda kuliah.

Di tengah arus pelajar yang bergegas melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, pilihan tersebut kerap dipandang sebagai langkah yang tertunda. Namun, bagi saya, ini bukan tentang menunda, melainkan mempersiapkan diri. Ketertarikan pada bahasa Inggris telah tumbuh sejak saya duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Nurul Islam. Dari sekadar mata pelajaran, ia berkembang menjadi kebutuhan.

Pengalaman belajar di Palapa English College, saat menjalani pengabdian di Pondok Pesantren An-Najah desa Matanair Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep, menjadi pijakan awal. Selama satu tahun, saya mempelajari dasar hingga tingkat menengah. Namun, ada satu hal yang belum terpenuhi: ruang praktik yang intens dalam kehidupan sehari-hari.

Kebutuhan itu saya temukan di Pare. Lingkungan yang kondusif membuat saya cepat beradaptasi, terutama dalam praktik berbicara. Bahasa Inggris tidak hanya digunakan di dalam kelas, tetapi juga dalam keseharian—bersama teman, guru, masyarakat sekitar, bahkan para penjual di warung dan toko. Ruang belajar terasa tanpa batas; bahasa menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri.

Namun, belajar di Kampung Inggris bukan hanya soal lingkungan yang mendukung kemampuan berbahasa. Ada sisi lain yang membuat saya semakin betah. Urusan sederhana seperti makan justru terasa ringan. Nasi pecel, nasi rames, bakso, hingga mie ayam bisa dinikmati dengan harga yang sangat terjangkau pada waktu itu. Bagi seorang perantau yang sedang fokus belajar, hal-hal seperti ini menjadi penopang penting: sederhana, tetapi cukup.

Saya tinggal di indekos PIYAOLIYANG, sekitar 100 meter dari BEC. Jarak yang dekat membuat saya bisa sepenuhnya tenggelam dalam ritme belajar. Pagi berangkat ke kelas, siang latihan, malam mengulang pelajaran—semuanya berjalan dalam pola yang teratur. Di ruang sederhana itulah saya belajar tentang disiplin, konsistensi, dan ketekunan.

Hari-hari di Pare berjalan dalam ritme yang khas. Saya juga mengikuti beberapa lembaga kursus untuk memperkaya pengalaman belajar. Waktu berjalan cepat. Delapan bulan terasa seperti perjalanan singkat yang penuh makna. Lebih dari sekadar kemampuan bahasa, saya mendapatkan cara pandang baru—bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri dalam belajar dan meraih tujuan.

Keputusan menunda kuliah memang sempat dipertanyakan. Namun, saya meyakini bahwa penguasaan bahasa asing merupakan bekal penting dalam menghadapi dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian—terutama dalam membaca referensi dan menyusun karya ilmiah.

Setelah menyelesaikan masa belajar di Pare, saya kembali ke kampung halaman. Sambil menunggu pendaftaran kuliah, saya menjalani aktivitas sehari-hari, membantu orang tua. Namun, ada satu hal yang berubah: keyakinan. Saya merasa lebih siap melangkah.

Pengalaman di Kampung Inggris mengajarkan bahwa pendidikan tidak selalu harus berjalan lurus. Ada kalanya seseorang perlu mengambil jeda untuk memperkuat fondasi sebelum melangkah lebih jauh.

Dan bagi saya, semua itu bermula dari satu pagi di pertigaan Bluto—saat saya menunggu bus, membawa mimpi, dan memilih jalan yang berbeda.*

 

 


Belajar di Kampung Inggris

Dari pertigaan Bluto hingga Pare, sebuah pilihan menunda kuliah demi mempedalam bahasa Inggris sebagai bekal masa depan. -------------------...