03 Juni 2014

KATAKAN CINTA DENGAN BUKU

Di tengah dunia yang serba cepat dan serba digital, ada cara sederhana namun sering terlupakan untuk mengungkapkan cinta: membaca. Bukan sekadar membuka halaman, tetapi merawat hubungan panjang dengan pengetahuan—sebuah ikatan sunyi antara manusia dan buku yang diam-diam membentuk cara berpikir, bahkan arah hidupnya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Judul “Katakan Cinta dengan Buku” bukan sekadar rangkaian kata. Ia mengandung ajakan—bahwa cinta tidak selalu harus diungkapkan dengan bunga, cokelat, atau simbol-simbol romantik yang lazim. Ada cara lain yang lebih dalam: menghadiahkan, membaca, dan merawat buku sebagai bentuk penghormatan pada ilmu dan kehidupan itu sendiri.

Inspirasi judul ini saya temukan dari sebuah kolom di harian Jawa Pos. Tulisan tersebut sederhana, namun meninggalkan kesan yang kuat. Tiga kata kunci di dalamnya—“katakan”, “cinta”, dan “buku”—seolah membuka ruang tafsir yang luas tentang bagaimana manusia mengekspresikan perasaan dan membangun makna.

Dalam praktik sehari-hari, cinta sering kali diwujudkan melalui benda-benda simbolik. Namun, mengatakan cinta lewat buku menghadirkan dimensi yang berbeda. Ia tidak hanya menyentuh perasaan, tetapi juga memperkaya pikiran. Buku membawa nilai edukatif, informatif, sekaligus humanis—tiga hal yang menjadikannya lebih dari sekadar benda mati.

Sulit membayangkan dunia tanpa buku. Tanpanya, mungkin kita tidak akan mengenal perjalanan panjang peradaban, gagasan para pemikir, hingga sejarah yang membentuk hari ini. Buku adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia merekam jejak manusia sekaligus menuntun generasi berikutnya.

Bagi saya pribadi, buku bukan hanya teman, tetapi juga penuntun. Ia hadir di saat-saat sunyi, membangkitkan kembali semangat belajar, dan memberi arah ketika langkah terasa bimbang. Dari kegelisahan itulah tulisan ini lahir—sebagai upaya sederhana untuk merawat hubungan dengan dunia literasi.

Lewat buku, saya mengenal banyak hal: tentang agama, bahasa, pemikiran, hingga dunia jurnalistik. Tanpa membaca, mungkin konsep-konsep seperti iman, etika, atau bahkan gagasan besar para tokoh hanya akan menjadi istilah asing. Buku membuka pintu dialog—bukan hanya dengan penulis, tetapi juga dengan diri sendiri.

Nama-nama besar seperti Soekarno, Tan Malaka, Al-Ghazali, hingga Soe Hok Gie hadir melalui karya-karya mereka. Dari sanalah, pemikiran berkembang, perspektif meluas, dan kesadaran dibentuk.

Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa buku memiliki peran besar dalam membangun peradaban. Ia bukan sekadar kumpulan halaman, tetapi sumber inspirasi yang tak pernah habis. Bahkan, dalam kesunyian sekalipun, buku mampu menjadi teman dialog yang setia.

Meski telah menempuh pendidikan formal hingga jenjang sarjana, rasa haus akan ilmu justru semakin terasa. Dunia membaca dan menulis seperti panggilan yang terus mengusik—mengajak untuk kembali, belajar lagi, dan memperbaiki diri.

Ada kerinduan pada ruang-ruang sunyi seperti perpustakaan, pada lembaran-lembaran yang belum sempat dibaca, dan pada pengetahuan yang belum sepenuhnya dipahami. Dalam kegelisahan itu, terselip doa—agar langkah tetap diarahkan pada jalan ilmu, dan hati tetap diberi ketenangan.

Perjalanan ini pada akhirnya membawa saya pada satu keyakinan sederhana: bahwa membaca, menulis, dan belajar adalah bentuk cinta yang paling jujur. Cinta yang tidak hanya memberi makna, tetapi juga membentuk siapa diri kita sebenarnya.

Sebab semakin dalam seseorang tenggelam dalam dunia baca dan tulis, semakin ia menyadari satu hal: betapa luasnya ilmu, dan betapa kecilnya diri ini di hadapannya.

Salam literasi.


Mengurai Hoaks di Ruang Akademik: Catatan dari Seminar Regional di Kampus STIQNIS Sumenep


Hoaks tak lagi sekadar isu, melainkan realitas sehari-hari. Di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Nurul Islam, diskusi tentang media dan literasi informasi menjadi ruang penting untuk membedah bagaimana kebenaran sering kali kabur di tengah banjir informasi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pagi itu, ruang aula Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Nurul Islam dipenuhi wajah-wajah penuh antusias. Mahasiswa, pelajar, hingga para guru duduk berjejer rapi, sebagian membuka catatan, sebagian lain bersiap dengan ponsel di tangan. Mereka datang bukan sekadar untuk mendengar, tetapi untuk memahami—tentang satu isu yang kian dekat dengan kehidupan sehari-hari: hoaks, media, dan kita.

Saya berdiri di depan mereka, membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Seberapa sering kita menerima informasi tanpa sempat memeriksa kebenarannya?” Pertanyaan itu seketika mengundang respons. Beberapa tersenyum, sebagian mengangguk, seolah merasa sedang dibicarakan.

Seminar regional itu mengangkat tema “Hoaks, Media, dan Kita”—sebuah topik yang relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Dalam pemaparan, saya mencoba mengurai bagaimana hoaks tidak sekadar informasi palsu, tetapi juga bagian dari strategi komunikasi yang dapat memengaruhi cara berpikir dan bertindak masyarakat.

Diskusi berkembang hangat. Peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya dan berbagi pengalaman. Ada yang bercerita tentang kabar bohong di media sosial, ada pula yang mengungkap kebingungan membedakan antara fakta dan opini. Dari sana terlihat bahwa hoaks bukan lagi isu jauh, melainkan realitas yang mereka hadapi setiap hari.

Saya kemudian mengajak mereka memahami peran media—bahwa media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pembentuk realitas sosial. Di titik ini, penting bagi setiap individu untuk tidak menjadi konsumen pasif. Literasi media menjadi kunci, agar masyarakat mampu memilah, memverifikasi, dan tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan.

Suasana semakin hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Tangan-tangan terangkat, pertanyaan mengalir tanpa jeda. Antusiasme itu menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya literasi informasi mulai tumbuh. Para peserta tidak hanya ingin tahu, tetapi juga ingin memahami lebih dalam.

Di akhir sesi, saya menegaskan satu hal sederhana: melawan hoaks bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi tanggung jawab bersama. Setiap individu memiliki peran—setidaknya dengan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Seminar itu tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga ruang perjumpaan gagasan. Di tengah keterbatasan, semangat belajar tetap menyala. Dan di ruang kecil di Karangcempaka itu, harapan tentang masyarakat yang lebih kritis dan cerdas dalam bermedia terasa begitu nyata.

ANTARA AKU, BUKU DAN DIA


Di antara sunyi halaman buku dan riuhnya perasaan yang tak terucap, sebuah pergulatan diam-diam tumbuh. Ia bukan sekadar cerita tentang cinta, tetapi tentang pilihan—antara setia pada ilmu atau menyerah pada rasa yang tiba-tiba datang tanpa aba-aba.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan ini tidak lahir dari ruang akademik yang penuh istilah tinggi, melainkan dari kegelisahan yang sulit dibendung. Ada perasaan yang terus berputar di kepala, mengetuk-ngetuk ruang pikir, hingga akhirnya menemukan jalannya sendiri—melalui tulisan.

Bagi saya, menulis adalah cara paling jujur untuk berbicara. Kata-kata yang diucapkan bisa saja hilang terbawa angin, tetapi tulisan memiliki cara sendiri untuk bertahan. Ia mengikat perasaan, merawat ingatan, dan menyimpan hal-hal yang tak sanggup diungkapkan secara lisan.

Saya sadar, saya bukan penyair seperti W.S. Rendra, atau pemikir besar seperti Muhammad Iqbal, yang mampu merangkai kata dengan indah di hadapan banyak orang. Bahkan, untuk sekadar berbicara di depan seseorang yang istimewa, sering kali saya kehilangan arah.

Semua bermula dari sebuah pertemuan yang sederhana. Saat mengajar bahasa Inggris di sebuah pondok pesantren, saya mengenal seorang santri—cerdas, kalem, dan sedikit pemalu. Ia tidak banyak bicara, tetapi senyumnya selalu hadir setiap kali kami berpapasan. Dari situlah, sesuatu yang tak terduga perlahan tumbuh.

Kehadirannya mengubah ritme hari-hari saya. Waktu yang sebelumnya berjalan datar, kini terasa lebih hidup. Ada sesuatu yang baru—yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan, tetapi terasa nyata. Ia masuk begitu saja, tanpa permisi, ke dalam ruang batin yang selama ini dipenuhi oleh buku dan kesunyian.

Namun, tidak semua rasa menemukan jalannya dengan mudah. Ada jarak yang tak terucap, ada bahasa yang tak tersampaikan. Ia memilih diam, seolah menyimpan makna dalam sikapnya. Sementara saya, terjebak di antara keinginan untuk memahami dan keterbatasan untuk menafsirkan.

Dalam kegamangan itu, saya teringat pada kisah Søren Kierkegaard dan Regina Olsen—cinta yang begitu dalam, tetapi berakhir dengan perpisahan. Sebuah pengingat bahwa tidak semua rasa harus berujung pada kebersamaan.

Saya tidak ingin mengulang kisah itu. Namun, di sisi lain, saya juga tak kuasa menolak kemungkinan bahwa jalan hidup bisa saja membawa ke arah yang sama.

Di tengah pergulatan itu, ada satu hal yang perlahan terabaikan: buku. Ia yang selama ini setia menemani, kini seperti ditinggalkan. Dulu, buku adalah pelarian sekaligus tujuan. Ia membuka cakrawala, menuntun langkah, dan mengajak saya menyelami dunia pengetahuan tanpa batas.

Kini, buku seperti menunggu—diam, tetapi penuh makna. Seolah mengingatkan bahwa ada kesetiaan yang pernah dibangun, ada perjalanan panjang yang tak boleh dilupakan.

Pertanyaan pun muncul: haruskah memilih? Antara menjaga cinta pada ilmu atau memberi ruang pada rasa yang tumbuh? Ataukah keduanya bisa berjalan berdampingan?

Saya tidak memiliki jawaban pasti. Yang saya tahu, cinta memang tidak pernah sederhana. Ia memiliki dua wajah—membahagiakan sekaligus menguji. Ia bisa menguatkan, tetapi juga bisa melemahkan.

Di titik inilah, saya memilih untuk kembali pada satu hal yang paling mendasar: berharap. Bahwa apa pun yang terjadi, akan menemukan jalannya sendiri. Bahwa antara buku dan dia, tidak harus saling meniadakan.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang memilih, tetapi juga tentang memahami—bahwa setiap rasa, setiap pertemuan, dan setiap kehilangan, adalah bagian dari proses menjadi manusia.

Dan di antara semua itu, saya tetap percaya: menulis adalah cara terbaik untuk merawat semuanya—cinta, ilmu, dan kenangan.

Salam buku dan Pena

Agama, Buku, dan Perpustakaan: Percakapan Panjang di Ujung Malam


Malam merayap pelan ketika percakapan itu justru semakin hidup. Di antara tumpukan buku dan secangkir kopi yang mulai dingin, kami bertiga tenggelam dalam diskusi panjang—tentang agama, buku, dan perpustakaan—sebuah perbincangan yang tak hanya memantik pikiran, tetapi juga menggugah keyakinan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semuanya bermula dari obrolan sederhana. Malam itu, saya bersama dua rekan—Suaidi dan Lukmah Hakim—duduk santai, sebagian rebahan, di rumah kontrakan Afandi. Sebuah tempat singgah yang kerap kami jadikan ruang berbagi, sekaligus ruang berpikir.

Sebagai Dosen Luar Biasa (DLB), kami memang memiliki ritme yang hampir sama. Mengajar pada hari Jumat dan Sabtu, lalu bermalam di kontrakan sederhana itu. Dari rutinitas itulah, percakapan-percakapan kecil sering tumbuh menjadi diskusi panjang yang tak jarang berujung reflektif.

Seperti malam itu.

Usai salat Isya, Lukmah Hakim membuka percakapan. Awalnya ringan, penuh selingan tawa. Namun perlahan, arah diskusi berubah menjadi lebih serius.

“Menurut kalian,” ujarnya sambil tersenyum, “apakah buku dan perpustakaan hanya sekadar sarana belajar, atau justru telah menjadi ruang iman baru bagi para pencari ilmu?”

Pertanyaan itu sempat memancing tawa kecil. Namun di balik kesederhanaannya, ada muatan yang cukup dalam—bahkan provokatif.

Tanpa jeda panjang, Suaidi merespons spontan,
“Buku itu jendela dunia, perpustakaan gudangnya ilmu.”

Kalimat klasik. Terlalu sering didengar, bahkan mungkin terasa usang. Namun malam itu, kami tidak membiarkannya berhenti sebagai slogan. Justru kami bongkar ulang maknanya—bukan untuk menolak, tetapi untuk memahami ulang.

Saya pun ikut menimpali, mencoba memberi sudut pandang yang sederhana, tetapi cukup “menggigit”. Kalimat itu saya lontarkan dengan nada santai, yang justru memicu tawa panjang di antara kami. Namun dari situlah diskusi mulai menemukan nadinya.

Kami sepakat, buku bukan sekadar objek baca. Ia adalah medium kesadaran. Membaca bukan hanya proses menerima informasi, melainkan dialektika—antara teks dan konteks, antara penulis dan pembaca, antara pengalaman dan penafsiran.

“Buku itu bukan hanya dibaca,” ujar salah satu dari kami, “tetapi juga ‘didialogkan’.”

Dari situlah, percakapan berkembang. Menulis kemudian kami posisikan sebagai kelanjutan dari membaca. Ia bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi bentuk aktualisasi diri—cara manusia menegaskan eksistensinya sebagai makhluk berpikir.

Namun diskusi belum berhenti.

Kami masuk pada satu istilah yang cukup sensitif: fanatisme.

Dalam pemahaman umum, fanatisme sering dipandang negatif. Tetapi malam itu, kami mencoba melihatnya dari sisi lain. Dalam batas tertentu, fanatisme terhadap buku dan ilmu justru bisa menjadi energi intelektual. Ia lahir dari rasa ingin tahu yang tak pernah selesai—dari kegelisahan yang terus mencari jawaban.

Percakapan semakin melebar. Nama-nama besar mulai hadir dalam diskusi. Karl Marx dengan gagasannya tentang agama sebagai “candu masyarakat”, hingga Robert N. Bellah yang melihat agama sebagai sistem makna yang lahir dari praktik sosial.

“Kalau agama bisa menjadi candu,” celetuk salah satu dari kami,
“apakah buku juga bisa?”

Pertanyaan itu menggantung cukup lama.

Kami mencoba menjawabnya perlahan. Buku, seperti agama, bisa menjadi sumber ketenangan. Ia memberi arah, membentuk cara pandang, bahkan dalam beberapa hal menjadi pedoman hidup. Di titik ini, batas antara “membaca” dan “meyakini” menjadi samar.

Perpustakaan, dalam konteks itu, tak lagi sekadar ruang fisik. Ia menjelma menjadi ruang refleksi—tempat manusia berdialog dengan dirinya sendiri.

Sejarah pun memberi legitimasi. Para pemikir besar seperti Albert Einstein, Auguste Comte, hingga Aristoteles tidak lahir begitu saja. Mereka tumbuh melalui proses panjang: membaca, meragukan, berdialektika, lalu menemukan.

Malam semakin larut. Namun percakapan kami justru semakin dalam.

Tidak ada kesimpulan yang benar-benar final. Dan mungkin memang tidak perlu. Sebab diskusi yang hidup bukan tentang menemukan jawaban, tetapi tentang merawat pertanyaan.

Pada akhirnya, kami sampai pada satu titik temu: buku dan perpustakaan bukanlah “agama” dalam arti literal. Namun keduanya memiliki daya yang hampir serupa—membentuk cara manusia memahami dunia, bahkan dirinya sendiri.

Selebihnya, pilihan tetap kembali pada masing-masing. Apakah buku akan menjadi sahabat setia, atau sekadar pelengkap waktu luang.

Yang jelas, di tengah dunia yang semakin bising, ruang-ruang sunyi seperti perpustakaan masih menyimpan satu hal yang tak tergantikan: kesempatan untuk berpikir.

Dan malam itu, kami memilih untuk tetap terjaga—merawat percakapan yang barangkali tak akan pernah benar-benar selesai.

Belajar di Kampung Inggris

Dari pertigaan Bluto hingga Pare, sebuah pilihan menunda kuliah demi mempedalam bahasa Inggris sebagai bekal masa depan. -------------------...