03 Juni 2014

Agama, Buku, dan Perpustakaan: Percakapan Panjang di Ujung Malam


Malam merayap pelan ketika percakapan itu justru semakin hidup. Di antara tumpukan buku dan secangkir kopi yang mulai dingin, kami bertiga tenggelam dalam diskusi panjang—tentang agama, buku, dan perpustakaan—sebuah perbincangan yang tak hanya memantik pikiran, tetapi juga menggugah keyakinan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semuanya bermula dari obrolan sederhana. Malam itu, saya bersama dua rekan—Suaidi dan Lukmah Hakim—duduk santai, sebagian rebahan, di rumah kontrakan Afandi. Sebuah tempat singgah yang kerap kami jadikan ruang berbagi, sekaligus ruang berpikir.

Sebagai Dosen Luar Biasa (DLB), kami memang memiliki ritme yang hampir sama. Mengajar pada hari Jumat dan Sabtu, lalu bermalam di kontrakan sederhana itu. Dari rutinitas itulah, percakapan-percakapan kecil sering tumbuh menjadi diskusi panjang yang tak jarang berujung reflektif.

Seperti malam itu.

Usai salat Isya, Lukmah Hakim membuka percakapan. Awalnya ringan, penuh selingan tawa. Namun perlahan, arah diskusi berubah menjadi lebih serius.

“Menurut kalian,” ujarnya sambil tersenyum, “apakah buku dan perpustakaan hanya sekadar sarana belajar, atau justru telah menjadi ruang iman baru bagi para pencari ilmu?”

Pertanyaan itu sempat memancing tawa kecil. Namun di balik kesederhanaannya, ada muatan yang cukup dalam—bahkan provokatif.

Tanpa jeda panjang, Suaidi merespons spontan,
“Buku itu jendela dunia, perpustakaan gudangnya ilmu.”

Kalimat klasik. Terlalu sering didengar, bahkan mungkin terasa usang. Namun malam itu, kami tidak membiarkannya berhenti sebagai slogan. Justru kami bongkar ulang maknanya—bukan untuk menolak, tetapi untuk memahami ulang.

Saya pun ikut menimpali, mencoba memberi sudut pandang yang sederhana, tetapi cukup “menggigit”. Kalimat itu saya lontarkan dengan nada santai, yang justru memicu tawa panjang di antara kami. Namun dari situlah diskusi mulai menemukan nadinya.

Kami sepakat, buku bukan sekadar objek baca. Ia adalah medium kesadaran. Membaca bukan hanya proses menerima informasi, melainkan dialektika—antara teks dan konteks, antara penulis dan pembaca, antara pengalaman dan penafsiran.

“Buku itu bukan hanya dibaca,” ujar salah satu dari kami, “tetapi juga ‘didialogkan’.”

Dari situlah, percakapan berkembang. Menulis kemudian kami posisikan sebagai kelanjutan dari membaca. Ia bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi bentuk aktualisasi diri—cara manusia menegaskan eksistensinya sebagai makhluk berpikir.

Namun diskusi belum berhenti.

Kami masuk pada satu istilah yang cukup sensitif: fanatisme.

Dalam pemahaman umum, fanatisme sering dipandang negatif. Tetapi malam itu, kami mencoba melihatnya dari sisi lain. Dalam batas tertentu, fanatisme terhadap buku dan ilmu justru bisa menjadi energi intelektual. Ia lahir dari rasa ingin tahu yang tak pernah selesai—dari kegelisahan yang terus mencari jawaban.

Percakapan semakin melebar. Nama-nama besar mulai hadir dalam diskusi. Karl Marx dengan gagasannya tentang agama sebagai “candu masyarakat”, hingga Robert N. Bellah yang melihat agama sebagai sistem makna yang lahir dari praktik sosial.

“Kalau agama bisa menjadi candu,” celetuk salah satu dari kami,
“apakah buku juga bisa?”

Pertanyaan itu menggantung cukup lama.

Kami mencoba menjawabnya perlahan. Buku, seperti agama, bisa menjadi sumber ketenangan. Ia memberi arah, membentuk cara pandang, bahkan dalam beberapa hal menjadi pedoman hidup. Di titik ini, batas antara “membaca” dan “meyakini” menjadi samar.

Perpustakaan, dalam konteks itu, tak lagi sekadar ruang fisik. Ia menjelma menjadi ruang refleksi—tempat manusia berdialog dengan dirinya sendiri.

Sejarah pun memberi legitimasi. Para pemikir besar seperti Albert Einstein, Auguste Comte, hingga Aristoteles tidak lahir begitu saja. Mereka tumbuh melalui proses panjang: membaca, meragukan, berdialektika, lalu menemukan.

Malam semakin larut. Namun percakapan kami justru semakin dalam.

Tidak ada kesimpulan yang benar-benar final. Dan mungkin memang tidak perlu. Sebab diskusi yang hidup bukan tentang menemukan jawaban, tetapi tentang merawat pertanyaan.

Pada akhirnya, kami sampai pada satu titik temu: buku dan perpustakaan bukanlah “agama” dalam arti literal. Namun keduanya memiliki daya yang hampir serupa—membentuk cara manusia memahami dunia, bahkan dirinya sendiri.

Selebihnya, pilihan tetap kembali pada masing-masing. Apakah buku akan menjadi sahabat setia, atau sekadar pelengkap waktu luang.

Yang jelas, di tengah dunia yang semakin bising, ruang-ruang sunyi seperti perpustakaan masih menyimpan satu hal yang tak tergantikan: kesempatan untuk berpikir.

Dan malam itu, kami memilih untuk tetap terjaga—merawat percakapan yang barangkali tak akan pernah benar-benar selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belajar di Kampung Inggris

Dari pertigaan Bluto hingga Pare, sebuah pilihan menunda kuliah demi mempedalam bahasa Inggris sebagai bekal masa depan. -------------------...