Di antara sunyi halaman buku dan riuhnya perasaan yang tak terucap, sebuah pergulatan diam-diam tumbuh. Ia bukan sekadar cerita tentang cinta, tetapi tentang pilihan—antara setia pada ilmu atau menyerah pada rasa yang tiba-tiba datang tanpa aba-aba.
Tulisan ini tidak lahir dari ruang akademik yang penuh istilah tinggi, melainkan dari kegelisahan yang sulit dibendung. Ada perasaan yang terus berputar di kepala, mengetuk-ngetuk ruang pikir, hingga akhirnya menemukan jalannya sendiri—melalui tulisan.
Bagi saya, menulis adalah cara paling jujur untuk berbicara. Kata-kata yang diucapkan bisa saja hilang terbawa angin, tetapi tulisan memiliki cara sendiri untuk bertahan. Ia mengikat perasaan, merawat ingatan, dan menyimpan hal-hal yang tak sanggup diungkapkan secara lisan.
Saya sadar, saya bukan penyair seperti W.S. Rendra, atau pemikir besar seperti Muhammad Iqbal, yang mampu merangkai kata dengan indah di hadapan banyak orang. Bahkan, untuk sekadar berbicara di depan seseorang yang istimewa, sering kali saya kehilangan arah.
Semua bermula dari sebuah pertemuan yang sederhana. Saat mengajar bahasa Inggris di sebuah pondok pesantren, saya mengenal seorang santri—cerdas, kalem, dan sedikit pemalu. Ia tidak banyak bicara, tetapi senyumnya selalu hadir setiap kali kami berpapasan. Dari situlah, sesuatu yang tak terduga perlahan tumbuh.
Kehadirannya mengubah ritme hari-hari saya. Waktu yang sebelumnya berjalan datar, kini terasa lebih hidup. Ada sesuatu yang baru—yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan, tetapi terasa nyata. Ia masuk begitu saja, tanpa permisi, ke dalam ruang batin yang selama ini dipenuhi oleh buku dan kesunyian.
Namun, tidak semua rasa menemukan jalannya dengan mudah. Ada jarak yang tak terucap, ada bahasa yang tak tersampaikan. Ia memilih diam, seolah menyimpan makna dalam sikapnya. Sementara saya, terjebak di antara keinginan untuk memahami dan keterbatasan untuk menafsirkan.
Dalam kegamangan itu, saya teringat pada kisah Søren Kierkegaard dan Regina Olsen—cinta yang begitu dalam, tetapi berakhir dengan perpisahan. Sebuah pengingat bahwa tidak semua rasa harus berujung pada kebersamaan.
Saya tidak ingin mengulang kisah itu. Namun, di sisi lain, saya juga tak kuasa menolak kemungkinan bahwa jalan hidup bisa saja membawa ke arah yang sama.
Di tengah pergulatan itu, ada satu hal yang perlahan terabaikan: buku. Ia yang selama ini setia menemani, kini seperti ditinggalkan. Dulu, buku adalah pelarian sekaligus tujuan. Ia membuka cakrawala, menuntun langkah, dan mengajak saya menyelami dunia pengetahuan tanpa batas.
Kini, buku seperti menunggu—diam, tetapi penuh makna. Seolah mengingatkan bahwa ada kesetiaan yang pernah dibangun, ada perjalanan panjang yang tak boleh dilupakan.
Pertanyaan pun muncul: haruskah memilih? Antara menjaga cinta pada ilmu atau memberi ruang pada rasa yang tumbuh? Ataukah keduanya bisa berjalan berdampingan?
Saya tidak memiliki jawaban pasti. Yang saya tahu, cinta memang tidak pernah sederhana. Ia memiliki dua wajah—membahagiakan sekaligus menguji. Ia bisa menguatkan, tetapi juga bisa melemahkan.
Di titik inilah, saya memilih untuk kembali pada satu hal yang paling mendasar: berharap. Bahwa apa pun yang terjadi, akan menemukan jalannya sendiri. Bahwa antara buku dan dia, tidak harus saling meniadakan.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang memilih, tetapi juga tentang memahami—bahwa setiap rasa, setiap pertemuan, dan setiap kehilangan, adalah bagian dari proses menjadi manusia.
Dan di antara semua itu, saya tetap percaya: menulis adalah cara terbaik untuk merawat semuanya—cinta, ilmu, dan kenangan.
Salam buku dan Pena

Tidak ada komentar:
Posting Komentar