Hoaks tak lagi sekadar isu, melainkan realitas sehari-hari. Di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Nurul Islam, diskusi tentang media dan literasi informasi menjadi ruang penting untuk membedah bagaimana kebenaran sering kali kabur di tengah banjir informasi.
Pagi itu, ruang aula Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Nurul Islam dipenuhi wajah-wajah penuh antusias. Mahasiswa, pelajar, hingga para guru duduk berjejer rapi, sebagian membuka catatan, sebagian lain bersiap dengan ponsel di tangan. Mereka datang bukan sekadar untuk mendengar, tetapi untuk memahami—tentang satu isu yang kian dekat dengan kehidupan sehari-hari: hoaks, media, dan kita.
Saya berdiri di depan mereka, membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Seberapa sering kita menerima informasi tanpa sempat memeriksa kebenarannya?” Pertanyaan itu seketika mengundang respons. Beberapa tersenyum, sebagian mengangguk, seolah merasa sedang dibicarakan.
Seminar regional itu mengangkat tema “Hoaks, Media, dan Kita”—sebuah topik yang relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Dalam pemaparan, saya mencoba mengurai bagaimana hoaks tidak sekadar informasi palsu, tetapi juga bagian dari strategi komunikasi yang dapat memengaruhi cara berpikir dan bertindak masyarakat.
Diskusi berkembang hangat. Peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya dan berbagi pengalaman. Ada yang bercerita tentang kabar bohong di media sosial, ada pula yang mengungkap kebingungan membedakan antara fakta dan opini. Dari sana terlihat bahwa hoaks bukan lagi isu jauh, melainkan realitas yang mereka hadapi setiap hari.
Saya kemudian mengajak mereka memahami peran media—bahwa media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pembentuk realitas sosial. Di titik ini, penting bagi setiap individu untuk tidak menjadi konsumen pasif. Literasi media menjadi kunci, agar masyarakat mampu memilah, memverifikasi, dan tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan.
Suasana semakin hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Tangan-tangan terangkat, pertanyaan mengalir tanpa jeda. Antusiasme itu menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya literasi informasi mulai tumbuh. Para peserta tidak hanya ingin tahu, tetapi juga ingin memahami lebih dalam.
Di akhir sesi, saya menegaskan satu hal sederhana: melawan hoaks bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi tanggung jawab bersama. Setiap individu memiliki peran—setidaknya dengan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Seminar itu tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga ruang perjumpaan gagasan. Di tengah keterbatasan, semangat belajar tetap menyala. Dan di ruang kecil di Karangcempaka itu, harapan tentang masyarakat yang lebih kritis dan cerdas dalam bermedia terasa begitu nyata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar