Pagi di Arek Lancor Pamekasan itu tidak hanya milik para pejalan santai. Di antara hiruk pikuk warga, sekelompok mahasiswa tampak sibuk memburu cerita—mencatat, mewawancarai, dan mengamati. Bagi mereka, ruang terbuka bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan kelas hidup untuk belajar memahami jurnalisme secara nyata.
Kegiatan
ini menjadi pertemuan kedua dalam format kuliah outdoor, setelah pekan
sebelumnya aktivitas serupa dilakukan bersama mahasiswa TBIN kelas A. Namun
kali ini, pendekatan yang digunakan terasa lebih aplikatif. Jika sebelumnya
fokus pada pengenalan konsep, maka pada pertemuan ini mahasiswa didorong untuk
lebih berani turun langsung—menemukan ide, menggali informasi, dan berinteraksi
dengan narasumber di ruang publik.
Materi
yang diangkat tetap sama, yakni teknik reportase dan peliputan berita. Namun,
proses pembelajarannya dikemas lebih kontekstual. Mahasiswa tidak hanya
mendengar penjelasan di dalam kelas, tetapi diajak menyelami praktik jurnalisme
secara langsung. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok, masing-masing dengan
tugas yang telah dirancang sebelumnya: mencari isu, menentukan sudut pandang,
hingga melakukan wawancara dengan masyarakat sebagai sumber informasi.
Di
bawah rindangnya pepohonan alun-alun, proses belajar itu berlangsung hidup. Ada
yang tampak serius mencatat hasil wawancara, ada pula yang mencoba membangun
percakapan agar narasumber lebih terbuka. Dari aktivitas sederhana itu,
mahasiswa perlahan belajar bahwa jurnalisme bukan sekadar menulis, tetapi juga
soal kepekaan membaca situasi dan kemampuan menjalin komunikasi.
Melalui praktik ini, mahasiswa diperkenalkan pada prinsip dasar jurnalisme: mencari informasi yang relevan, menangkap isu yang berkembang, menembus sumber yang kredibel, lalu mengolahnya menjadi tulisan yang layak dibaca publik. Pengalaman lapangan semacam ini menjadi penting, karena di situlah teori bertemu realitas.
Lebih
dari sekadar tugas akademik, kegiatan ini juga menjadi ruang latihan bagi
mahasiswa untuk membangun kepercayaan diri. Mereka belajar bagaimana mengajukan
pertanyaan, mendengarkan dengan saksama, dan merangkai fakta menjadi sebuah
cerita yang utuh.
Di
tengah dinamika ruang publik seperti Arek Lancor, mahasiswa TBIN B tidak hanya
belajar menjadi penulis berita, tetapi juga menjadi pembaca realitas sosial.
Sebab pada akhirnya, jurnalisme yang baik lahir dari kepekaan terhadap
lingkungan sekitar.
#selamatBelajarSuksesSelalu
.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar