Ada kalanya membaca buku bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menggugat cara kita memahami realitas. Itulah yang saya rasakan ketika membuka lembar demi lembar buku karya Gun Gun Heryanto—sebuah perjalanan intelektual yang pelan namun menggugah.
Buku setebal 604 halaman itu
memang belum sepenuhnya rampung saya baca. Ketebalannya seolah menjadi
tantangan tersendiri, sekaligus janji akan kedalaman isi yang tak bisa
dituntaskan dalam sekali duduk. Buku ini saya peroleh bukan dari rak toko buku,
melainkan dari tangan penulisnya langsung—sebuah momen yang memberi kesan
personal tersendiri. Saat itu, saya menjadi peserta Call For Paper dalam
forum Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (ASKOPIS) di IAIN
Salatiga tahun 2018, pada sebuah pertemuan ilmiah yang mempertemukan gagasan,
diskusi, dan jejaring akademik.
Sejak lembar awal, buku ini tidak
sekadar menyajikan teori, tetapi juga membentangkan realitas. Bang Gun Gun,
demikian ia kerap disapa, tampak konsisten menghadirkan perspektif akademik
yang kokoh, tanpa kehilangan sentuhan reflektif. Ia mengajak pembaca untuk
tidak hanya memahami apa yang terjadi dalam politik, tetapi juga mengapa itu
terjadi—dan bagaimana komunikasi memainkan peran kunci di dalamnya.
Di bagian-bagian tertentu,
pembaca akan menemukan bagaimana peristiwa politik pascareformasi dibedah
dengan tajam. Era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo
menjadi latar penting yang dianalisis secara komprehensif. Dari dinamika
pencitraan politik, strategi komunikasi elite, hingga peran media dalam
membentuk opini publik—semuanya disajikan dengan data, fakta, dan kerangka
berpikir yang terstruktur.
Menariknya, buku ini tidak
terjebak dalam bahasa akademik yang kaku. Sebaliknya, ia hadir dengan
pendekatan ilmiah populer—sebuah gaya yang menjembatani antara dunia kampus dan
realitas masyarakat luas. Pembaca diajak berdialog, bukan digurui. Setiap bab
seperti percakapan panjang yang mengalir, memberi ruang untuk merenung
sekaligus mengkritisi.
Lebih jauh, buku ini juga seperti
cermin. Ia memantulkan kembali wajah komunikasi politik kita hari ini—yang
kadang riuh, kadang bias, bahkan tak jarang kehilangan substansi. Dalam konteks
itu, membaca buku ini menjadi semacam upaya merawat nalar kritis, agar tidak
mudah terseret arus informasi yang dangkal.
Di tengah derasnya informasi
digital dan cepatnya arus opini publik, buku ini mengingatkan bahwa memahami
politik membutuhkan kesabaran intelektual. Bahwa di balik setiap pesan politik,
ada strategi, kepentingan, dan konstruksi makna yang perlu dibaca secara
cermat.
Maka, membaca Problematika
Komunikasi Politik bukan hanya aktivitas akademik, tetapi juga perjalanan
reflektif. Sebuah upaya kecil untuk tetap waras di tengah hiruk-pikuk
komunikasi politik yang sering kali membingungkan.
Pada akhirnya, buku ini belum
selesai saya baca. Namun justru di situlah letak keindahannya—selalu ada
halaman berikutnya yang menunggu untuk dipahami, ditafsirkan, dan mungkin
diperdebatkan.
#MembacaAdalahMelawanKebodohan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar