Di balik hiruk pikuk kota, pengabdian menemukan maknanya di desa-desa yang jauh dari pusat keramaian. Di sanalah, ratusan mahasiswa belajar tidak hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang kehidupan—sebagaimana tergambar dalam perjalanan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) mahasiswa IAIN Madura di pelosok Pamekasan.
Sejak 18 Juli 2018, sekitar 1.625 mahasiswa IAIN Madura mulai tersebar ke berbagai desa di Pamekasan. Mereka menjalankan program Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM), sebuah fase penting yang mempertemukan dunia akademik dengan realitas sosial.
Di antara desa tujuan itu, Desa Karanganyar dan Desa Gro’om menjadi lokasi pengabdian yang cukup menantang. Letaknya yang relatif jauh dari pusat kota menghadirkan pengalaman berbeda, baik bagi mahasiswa maupun bagi dosen pembimbing lapangan (DPL) yang mendampingi mereka.
Amanah sebagai DPL di dua desa tersebut menjadi pengalaman berharga—sekaligus yang kedua kalinya setelah tahun sebelumnya. Peran ini bukan sekadar formalitas akademik, tetapi tanggung jawab untuk membimbing, mengarahkan, dan memastikan mahasiswa mampu menjalankan program KPM dengan baik.
Sejak awal, mahasiswa dibekali pemahaman dasar tentang bagaimana mengelola posko, menyusun program kerja, hingga membangun komunikasi dengan aparat desa dan masyarakat setempat. Pendekatan sosial menjadi kunci, sebab keberhasilan KPM tidak hanya diukur dari program yang dijalankan, tetapi juga dari seberapa jauh mereka mampu diterima oleh lingkungan.
Dalam prosesnya, kunjungan lapangan menjadi bagian penting. Di sana, kesiapan program mahasiswa dievaluasi, rencana kerja disempurnakan, dan berbagai tantangan mulai terlihat. Tidak jarang, mahasiswa menghadapi kesulitan beradaptasi—mulai dari kondisi geografis hingga perbedaan budaya.
Namun menariknya, di balik keluhan yang sesekali muncul, terpancar pula semangat yang tak kalah kuat. Wajah-wajah yang awalnya canggung perlahan berubah menjadi lebih percaya diri. Adaptasi berjalan, dan interaksi dengan masyarakat mulai terbangun.
Sebagai DPL, peran tidak berhenti pada pembimbing akademik. Ia juga menjadi tempat berbagi cerita—mendengar keluh kesah mahasiswa yang sedang belajar memahami realitas di luar kampus. Dari situ, proses pembelajaran menjadi lebih manusiawi, tidak sekadar teoritis.
Pesan yang terus ditekankan sederhana namun bermakna: setiap persoalan di lapangan bukan untuk dihindari, melainkan untuk dipahami dan dicarikan solusi. Mahasiswa didorong untuk mengidentifikasi masalah, merumuskan langkah, dan setidaknya berupaya memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Selain itu, menjaga nama baik almamater menjadi hal yang tak kalah penting. Di tengah kehidupan desa, mahasiswa membawa identitas kampus yang harus dijaga dengan sikap, etika, dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai akademik.
KPM pada akhirnya bukan sekadar program wajib, melainkan ruang pembelajaran yang utuh. Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dipertemukan dengan realitas sosial yang beragam—mengasah kepekaan, memperluas perspektif, dan membentuk karakter.
Di desa-desa seperti Karanganyar dan Gro’om, pengabdian menemukan wajahnya yang paling sederhana, namun justru paling bermakna. Sebab di sanalah, ilmu diuji, empati tumbuh, dan pengalaman menjadi guru yang tak tergantikan.

