Ada yang berbeda di pagi itu. Di antara hiruk pikuk warga Arek Lancor Pamekasan, mahasiswa justru menemukan kelasnya sendiri—kelas yang mengajarkan bahwa jurnalisme lahir dari kepekaan, keberanian, dan perjumpaan dengan realitas.
Mereka adalah mahasiswa IAIN Madura, Program
Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Kelas A semester tiga, yang pagi itu tidak
sedang sekadar “kuliah”, melainkan menjalani pengalaman belajar yang berbeda.
Sebuah keyakinan sederhana menjadi pijakan: jurnalistik tidak harus selalu
diajarkan di dalam kelas. Justru di ruang terbuka, ide-ide sering kali mengalir
lebih jernih.
Ahad, 30 September 2018, pukul 07.00 WIB,
kegiatan itu dimulai. Mahasiswa diajak keluar dari rutinitas ruang kuliah untuk
memahami praktik jurnalistik secara langsung. Materi yang diusung tetap
berangkat dari teknik reportase dan peliputan berita, namun pendekatannya lebih
kontekstual—menghadapkan mahasiswa pada realitas yang sesungguhnya.
Selama ini, teori jurnalistik telah mereka
pelajari: bagaimana menyusun berita, memahami unsur 5W+1H, hingga membedakan
antara straight news dan feature. Namun di lapangan, mereka belajar
sesuatu yang lebih mendasar—bagaimana menggali informasi, membangun komunikasi
dengan narasumber, serta menangkap isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Di bawah langit pagi Pamekasan, mahasiswa
dibagi ke dalam tujuh kelompok. Masing-masing kelompok memegang peran: ada yang
bertugas sebagai fotografer, pengambil video, hingga pewawancara. Mereka
menyebar, menelusuri sudut-sudut alun-alun, mencari cerita dari berbagai
tema—sosial budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga olahraga.
Waktu yang diberikan hanya 30 menit. Singkat,
tetapi cukup untuk menguji ketajaman insting jurnalistik mereka. Dalam waktu
terbatas itu, mahasiswa dituntut berpikir cepat, bergerak sigap, dan berani
berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Tak semua berjalan mulus. Sebagian mahasiswa
mengaku gugup saat pertama kali mendekati narasumber. Rasa malu, takut salah
bicara, hingga kekhawatiran ditolak menjadi tantangan yang nyata. Namun justru
dari pengalaman itulah mereka belajar—bahwa menjadi jurnalis bukan hanya soal
kemampuan menulis, tetapi juga keberanian menghadapi situasi yang tidak selalu
nyaman.
“Awalnya canggung, tapi lama-lama jadi
terbiasa,” ujar salah satu mahasiswa, menggambarkan proses adaptasi yang mereka
alami di lapangan. Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga yang tidak selalu
bisa ditemukan dalam buku teks.
Setelah kegiatan reportase selesai, proses belajar berlanjut. Mahasiswa diminta menuliskan hasil liputan mereka dalam bentuk berita, baik straight news maupun feature. Setiap tulisan harus memenuhi kaidah jurnalistik, terutama unsur 5W+1H. Hasilnya kemudian dikumpulkan dalam format digital dan akan dibedah bersama pada pertemuan berikutnya sebagai bagian dari evaluasi.
Melalui pengalaman ini, mahasiswa tidak hanya
belajar menulis berita, tetapi juga belajar membaca realitas sosial. Mereka
memahami bahwa jurnalisme adalah proses—dari melihat, mendengar, merasakan,
hingga akhirnya menuliskan.
Di ruang terbuka seperti Arek Lancor,
pembelajaran menjadi lebih dari sekadar teori. Ia berubah menjadi
pengalaman—yang membentuk kepekaan, melatih keberanian, dan menumbuhkan cara
pandang kritis terhadap lingkungan sekitar.
#SuksesSelalu
.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar