12 Oktober 2018

Ruang Terbuka, Ide Mengalir: Praktik Reportase Mahasiswa TBIN di Jantung Kota Pamekasan


Ada yang berbeda di pagi itu. Di antara hiruk pikuk warga Arek Lancor Pamekasan, mahasiswa justru menemukan kelasnya sendiri—kelas yang mengajarkan bahwa jurnalisme lahir dari kepekaan, keberanian, dan perjumpaan dengan realitas.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pagi itu, denyut kehidupan di Arek Lancor Pamekasan terasa lebih ramai dari biasanya. Di tengah aktivitas warga yang berolahraga dan menikmati akhir pekan, sekelompok mahasiswa tampak menyatu dengan keramaian. Mereka membawa buku catatan, kamera, dan rasa ingin tahu yang besar—memburu cerita dari ruang publik yang hidup.

Mereka adalah mahasiswa IAIN Madura, Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Kelas A semester tiga, yang pagi itu tidak sedang sekadar “kuliah”, melainkan menjalani pengalaman belajar yang berbeda. Sebuah keyakinan sederhana menjadi pijakan: jurnalistik tidak harus selalu diajarkan di dalam kelas. Justru di ruang terbuka, ide-ide sering kali mengalir lebih jernih.

Ahad, 30 September 2018, pukul 07.00 WIB, kegiatan itu dimulai. Mahasiswa diajak keluar dari rutinitas ruang kuliah untuk memahami praktik jurnalistik secara langsung. Materi yang diusung tetap berangkat dari teknik reportase dan peliputan berita, namun pendekatannya lebih kontekstual—menghadapkan mahasiswa pada realitas yang sesungguhnya.

Selama ini, teori jurnalistik telah mereka pelajari: bagaimana menyusun berita, memahami unsur 5W+1H, hingga membedakan antara straight news dan feature. Namun di lapangan, mereka belajar sesuatu yang lebih mendasar—bagaimana menggali informasi, membangun komunikasi dengan narasumber, serta menangkap isu yang berkembang di tengah masyarakat.

Di bawah langit pagi Pamekasan, mahasiswa dibagi ke dalam tujuh kelompok. Masing-masing kelompok memegang peran: ada yang bertugas sebagai fotografer, pengambil video, hingga pewawancara. Mereka menyebar, menelusuri sudut-sudut alun-alun, mencari cerita dari berbagai tema—sosial budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga olahraga.

Waktu yang diberikan hanya 30 menit. Singkat, tetapi cukup untuk menguji ketajaman insting jurnalistik mereka. Dalam waktu terbatas itu, mahasiswa dituntut berpikir cepat, bergerak sigap, dan berani berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Tak semua berjalan mulus. Sebagian mahasiswa mengaku gugup saat pertama kali mendekati narasumber. Rasa malu, takut salah bicara, hingga kekhawatiran ditolak menjadi tantangan yang nyata. Namun justru dari pengalaman itulah mereka belajar—bahwa menjadi jurnalis bukan hanya soal kemampuan menulis, tetapi juga keberanian menghadapi situasi yang tidak selalu nyaman.

“Awalnya canggung, tapi lama-lama jadi terbiasa,” ujar salah satu mahasiswa, menggambarkan proses adaptasi yang mereka alami di lapangan. Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga yang tidak selalu bisa ditemukan dalam buku teks.


Setelah kegiatan reportase selesai, proses belajar berlanjut. Mahasiswa diminta menuliskan hasil liputan mereka dalam bentuk berita, baik straight news maupun feature. Setiap tulisan harus memenuhi kaidah jurnalistik, terutama unsur 5W+1H. Hasilnya kemudian dikumpulkan dalam format digital dan akan dibedah bersama pada pertemuan berikutnya sebagai bagian dari evaluasi.

Melalui pengalaman ini, mahasiswa tidak hanya belajar menulis berita, tetapi juga belajar membaca realitas sosial. Mereka memahami bahwa jurnalisme adalah proses—dari melihat, mendengar, merasakan, hingga akhirnya menuliskan.

Di ruang terbuka seperti Arek Lancor, pembelajaran menjadi lebih dari sekadar teori. Ia berubah menjadi pengalaman—yang membentuk kepekaan, melatih keberanian, dan menumbuhkan cara pandang kritis terhadap lingkungan sekitar.

#SuksesSelalu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belajar di Kampung Inggris

Dari pertigaan Bluto hingga Pare, sebuah pilihan menunda kuliah demi mempedalam bahasa Inggris sebagai bekal masa depan. -------------------...