26 April 2017

ANTARA AKU, KORAN DAN DIA


Bagi sebagian orang, koran hanyalah sumber informasi. Namun bagi yang lain, ia bisa menjadi candu, ruang pelarian, bahkan jembatan menuju kenangan yang tak selesai. Di situlah cerita ini bermula—antara aku, koran, dan seseorang yang tak pernah benar-benar pergi.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada masa ketika membaca koran bukan sekadar kebiasaan, melainkan kebutuhan yang sulit dijelaskan. Beberapa hari terakhir, saya seperti dilanda “demam koran”—sebuah dorongan yang membuat saya selalu ingin membuka lembar demi lembar berita, seolah ada yang kurang jika sehari terlewat tanpa membacanya. Di sana, kehidupan tersaji dalam berbagai rupa: peristiwa, konflik, hingga kisah-kisah manusia yang penuh makna. Nilai berita itulah yang membuat koran tetap hidup di mata pembacanya.

Ingatan saya kemudian kembali ke Surabaya, kota tempat saya menempuh pendidikan dulu. Di sana, koran seperti Jawa Pos, Kompas, Surya, hingga Sindo mudah ditemukan di berbagai sudut kota. Warung makan, warkop, hingga angkringan menjadikannya bagian dari keseharian. Bahkan, tak jarang orang harus menunggu giliran hanya untuk membaca satu eksemplar koran yang sama.

Pembacanya pun beragam—mahasiswa, pekerja, hingga masyarakat umum. Di tengah gempuran media digital, koran tetap memiliki tempat tersendiri. Ia bukan hanya sumber informasi, tetapi juga ruang refleksi. Ada sensasi yang tak tergantikan ketika membuka halaman demi halaman, membaca dengan perlahan, dan mencerna setiap peristiwa dengan lebih utuh.

Bagi saya, kebiasaan itu berkembang menjadi ritual kecil. Datang ke warung kopi bukan semata untuk menikmati minuman hangat, melainkan untuk membaca koran. Secangkir kopi, teh hangat, atau sekadar camilan menjadi pelengkap—semacam “tiket masuk” agar bisa duduk lebih lama dan tenggelam dalam bacaan. Bahkan ketika harus berbagi atau berebut koran dengan pengunjung lain, semangat itu tak pernah surut.

Seiring waktu, kebiasaan membaca koran tetap bertahan, bahkan setelah menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2. Ia menjadi bagian dari diri, seolah telah menyatu dengan ritme keseharian. Ada kenikmatan tersendiri membaca koran sambil ditemani minuman hangat—sebuah kesederhanaan yang sulit digantikan.

Namun, di balik kebiasaan itu, ada cerita lain yang tak kalah penting—tentang “dia”. Sosok yang kehadirannya tak pernah benar-benar jelas, tetapi selalu ada dalam ruang batin. Upaya untuk mendekat sering kali terasa seperti berjalan sendiri. Kadang bertepuk sebelah tangan, kadang terhenti tanpa jawaban.

Meski begitu, harapan tetap dijaga. Saya percaya, tidak semua hal harus dijelaskan dengan kata-kata. Ada bahasa lain yang bekerja—bahasa isyarat, bahasa sikap, bahkan bahasa diam. Dalam perspektif komunikasi, makna tidak selalu lahir dari ujaran verbal, tetapi juga dari tanda-tanda yang dibangun secara perlahan.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan, tetapi juga tentang memahami. Tentang bagaimana menjaga niat, merawat perasaan, dan tetap bertahan meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah.

Pada akhirnya, “aku, koran, dan dia” menjadi tiga hal yang saling terhubung dalam satu ruang pengalaman. Koran menghadirkan realitas, “dia” menghadirkan rasa, dan “aku” berada di antaranya—mencoba memahami keduanya.

Di atas semuanya, ada keyakinan yang tetap dijaga: bahwa setiap perjalanan memiliki takdirnya sendiri. Bahwa rezeki, jodoh, dan kehidupan berada dalam kehendak Yang Maha Mengatur. Dan mungkin, di antara lembaran koran yang terus dibaca, terselip doa-doa yang diam-diam dipanjatkan.

Sebab pada akhirnya, membaca bukan hanya tentang berita. Ia juga tentang harapan—tentang sesuatu yang terus ingin dipahami, meski tak selalu bisa dimiliki.

Salam buku dan pena.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belajar di Kampung Inggris

Dari pertigaan Bluto hingga Pare, sebuah pilihan menunda kuliah demi mempedalam bahasa Inggris sebagai bekal masa depan. -------------------...